Awas bahaya laten Kekerasan dalam Pacaran (KdP)!


gambar dari @LineComic

Kekerasan dalam Pacaran atau yang biasa disingkat dengan KdP merupakan satu jenis kekerasan terhadap perempuan yang sering terjadi tapi tidak disadari. Aku sering mendengar cerita dari banyak teman-temanku yang mengalami KdP ini. Bahkan aku sendiri pun juga merupakan korban dari KdP. Tentu masih ingat kita dengan kasus yang menimpa kaka Ardina Rasti, seorang publik figur yang mengalami kekerasan fisik dan psikis yang dilakukan oleh pacarnya. KdP dalam bahasa yang lebih keren disebut juga sebagai Dating Violence.

Bagiku, Kekerasan dalam Pacaran merupakan bibit-bibit dari kekerasan yang lebih luas yang timbul dari adanya mispresepsi. Sering kali kita lupa bahwa satu-satunya orang yang akan terus bersama kita sampai selama-lamanya adalah kita sendiri, bukan suami/istri atau pacar. Yang terpenting dalam hidup kita ya kita sendiri. Sesayang-sayangnya kamu terhadap pasangan kamu, kamu harus lebih sayang lagi sama diri kamu sendiri.

Jangan bayangkan Kekerasan dalam Pacaran itu hanya soal pukul-memukul atau maki-memaki. Kekerasan dalam Pacaran jauh lebih dari itu. Ketika kamu sudah dibatasi ruang geraknya, itu sudah termasuk kekerasan loh!

Ada cerita dari teman sekampusku. Kita sebut saja namanya Gina. Gina ini pribadi yang baik, punya penampilan yang oke juga berpenghidupan yang berkecukupan. Pernah sekali, aku mengajak Gina untuk melihat pameran buku di daerah Senayan. Hal pertama yang Gina lakukan adalah langsung meminta izin kepada pacarnya yang juga sekampus. Gina bilang pacarnya suka marah kalau dia tidak mengabari dia mau ke mana dan dengan siapa. Pacarnya juga sering melarang dia untuk berpergian. 
Gina bilang pacarnya demikian karena pacarnya sayang pada Gina. Pacarnya tidak ingin Gina kena apa-apa nanti di jalan.

Ada lagi cerita dari temanku, namanya Vira, tentu saja ini juga nama samaran. Vira ini anak yang aktif di organisasi. Dia juga pandai dalam kelas. Pernah sekali, aku telpon ke ponselnya. Yang angkat telpon malah pacarnya. Besoknya, aku ketemu dengannya, aku tanyakan kenapa pacarnya yang angkap telpon. Si Vira malah bilang kalau dia punya jadwal untuk tukeran ponsel sama pacarnya. Dia sebenarnya enggak nyaman untuk tukeran ponsel tapi pacarnya maksa! Pacarnya beralasan bahwa tukeran ponsel biar percaya tidak selingkuh. Tidak hanya itu, Vira juga bilang ponselnya bisa tiba-tiba diperiksa sama pacarnya, dan pacarnya juga sering marah-marah kalau si Vira nelpon teman laki-laki.

Lain si Gina, lain si Vira, lain juga si Dinda. Dinda sering kali dihina sama pacarnya. Dia sering kali dimaki-maki di depan umum. Dia juga pernah cerita bahwa dia diselingkuhi beberapa kali. Dia juga sering dipermalukan di depan teman-teman pacarnya. Potongan rambut dan gaya pakaian si Dinda pun sering kali diatur oleh pacarnya. Dia merasa dirinya tidak berarti, dan bahkan merasa dirinya bukan lagi dirinya.

Ketiga contoh di atas mudah-mudah tidak pernah kamu-kamu alami. Aku lihat, ada pola yang sama di antara ketiga kasus itu. Pertama-tama, pasangan akan memutus segala kontak kamu dengan dunia luar. Kamu dihalang-halangi untuk pergi bersama teman-temanmu. Ini langkah awal untuk bikin kamu ketergantungan sama dia. Setelah kamu ketergantungan, pasanganmu akan mulai mencuci otakmu dengan segala kata-kata cinta. Dia akan beralasan semua yang dilakukan atas nama cinta dan kebaikan kamu. Setelah itu, pasanganmu akan membuat kamu tidak lagi menjadi kamu, dengan cara merubah penampilan kamu sesuai kehendak dia. Setelah kamu menjadi “milik” dia, dia sudah bebas melakukan segala kekerasan kepada kamu tanpa takut-takut lagi!

Biasanya yang sudah dalam tahap ketergantungan yang parah, susah sekali kita sebagai teman untuk menyadarkannya. Segala apa yang kita katakan, nantinya akan mental karena otaknya sudah dipenuhi sama racun-racun atas nama cinta. Dalam usia yang masih muda, dan psikologis yang masih labil, kata-kata cinta memang memabukkan sampai-sampai orang lupa bahwa dia sudah disakiti!

Peran para teman dan sahabat menjadi penting di sini. Apabila kita lihat ada teman kita yang menjadi korban Kekerasan dalam Pacaran, kita harus bantu dia keluar dari lingkar kekerasan tersebut. Jangan kita biarkan dia terjerat makin lama dan makin dalam! Hubungan pacaran yang sehat ketika kamu menjadi pribadi yang lebih baik lagi saat kamu pacaran sama dia. Kalau kamu malah jadi pribadi yang lebih buruk, maka putuskanlah hubungan ini saat ini juga!

Tidak mudah sih buat kita yang ingin membebaskan teman kita dari lingkar kekerasan tersebut. Sering kali otak mereka sudah jadi batu, dan mata mereka sudah buta utk bisa lihat kebenaran. Huffft ....
 

Sekian dulu, nanti bersambung lagii ....


Cek juga artikel terkait di sini:



Komentar

  1. ditunggu sambunganya :D

    btw gue baru tau lo jg pernaj jd korban :))

    BalasHapus
  2. Kekerasan dalam pacaran ataupun rumah tangga itu terjadi karena pola pikir patriarki. Si laki-lakinya merasa lebih superior dari perempuan jadi ngerasa nguasai perempuannya, perempuan juga kadang gak sadar karena pola pikir patriarki itu perempuannya terima-terima aja dikuasai laki-laki padahal perempuan itu individu bebas sama aja kaya laki-laki. Tapi ya gitulah seksisme dan stereotype di society masih mengakar kuat jadi memang harus bener-bener hilangin patriarki biar perempuan bisa bener-bener setara, setara ya bukan sama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. perempuan juga jangan ngelakuin kekerasan struktural lewat nganggep cowok cuma jadi objek kemapanan atau kekerasan verbal lewat bentakan-bentakan yaaaa.... biar setara :P

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Apakah PR Harus Cakep?