Senyum Mereka Semangatku Mengajar


Bu Theresia dengan murid-muridnya
Namaku Theresia Marianti, aku lahir di pinggiran ibu kota 10 Maret 27 tahun lalu. Aku dibesarkan dalam didikan keluarga guru. Ayah, ibu dan kakakku semuanya guru, begitu pula dengan aku. Namun bedanya, keluargaku menjadi guru untuk anak-anak normal. Aku memilih untuk mengabdi mengajar anak-anak cacat.

Aku memilih menjadi guru bagi mereka dan tentu saja pilihan ini mendapat banyak pertentangan di keluargaku. Aku bahkan sempat tak saling sapa dengan ibuku. Sedih rasanya diacuhkan dari keluarga, tapi ini pilihanku. Sinisan dan Sindiran menjadi makananku sehari-hari. Pernah suatu hari, ketika aku sedang bersantai di rumah, ayahku datang dengan membawa sebuah formulir pindah jurusan. Aku ingat jelas momen itu. Saat itu aku sedang menjalani perkuliahan di jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Jakarta. Ayah memintaku pindah jurusan, ke jurusan yang lebih menjanjikan masa depan. Aku hanya menggeleng.

“Emang dosa ya mengajar anak-anak cacat ?”  kataku saat itu.

Niatku memang sudah bulat. Semua hinaan dan cibiran aku jadikan cambuk penyemangat. Tak aku izinkan rasa malas dan bosan menghampiriku. Aku memilih jalanku menjadi pengajar anak-anak cacat bermula saat aku menonton film Cecep, sebuah film yang akhirnya mengubah segala paradigma dan prespektif aku tentang profesi guru.

Sudah sembilan tahun sejak aku memilih menjadi guru sekolah luar biasa, sudah selama itu pula aku dan ibuku sering tak saling sapa. Tapi perlahan waktu jugalah yang mencairkan suasana beku di antara kami. Ibu mulai menerima keadaaanku terutama sejak ibu, aku ajak untuk melihat langsung tempat aku mengajar di SLB Alfiany. 

Bu There dengan muridnya yang tuna rungu

Senang rasanya dapat kembali diterima terutama oleh ibu. Walau kadang masih terlontar sindiran-sindiran sinis, aku bahagia paling tidak ibu sudah tahu bagaimana keadaanku sebenarnya.

Aku tak tahu apa yang sebenarnya aku kejar. Berharap materi tentu tidak. Terlalu kecil bila dibanding dengan glamoritas kota metropolis. Berharap pahala di surga juga tidak, terlalu banyak dosa yang sudah aku perbuat, entah masih pantas atau tidak aku diterima di surga.

Aku tak tahu apa yang sebenarnya aku kejar, yang aku tahu hanyalah aku senang bisa mengajar mereka. Senyum dan semangat anak-anak menjadi bahan bakar penggerak tubuhku.

“Bila mereka yang cacat saja begitu semangat datang ke sekolah untuk belajar, mengapa aku tidak ?”

Aku tak tahu mau sampai kapan menjadi seperti ini. Mungkin lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, atau mungkin sampai punggung ini tak sanggup lagi menyokong aku berdiri. Semuanya aku pasrahkan kepada Tuhan, karena Tuhan tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. (Elwi)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial