[Pengalaman Bukan Maen] Belajar Budaya Afrika Selatan


bersama Mr Moses
“Welcome to South Africa, the rainbow country, where black and white live in harmony”

Afrika Selatan merupakan sebuah negara indah di ujung selatan benua Afrika. Dengan luas lebih dari 1 juta km2, Afrika Selatan merupakan rumah bagi 45 juta warganya. Tidak hanya kulit hitam, tetapi juga putih, cokelat bahkan kuning hidup berdampingan dalam harmoni.

Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman berkesempatan untuk berkunjung ke kedutaan besar Afrika Selatan untuk Indonesia. Kunjungan ini bermula ketika kami mendapat tugas untuk mempresentasikan kebudayaan Afrika Selatan untuk mata kuliah komunikasi lintas budaya.

Kami diterima dengan baik oleh Sekretaris II bidang kebudayaan, Mr. Moses Phahlane setelah melewati prosedur birokrasi. Kami dua kali bertemu dengan Mr. Moses. Pertemuan pertama terjadi di kedubes Afsel di Wisma GKBI, Semanggi pada 17 Oktober 2011. Kami diceritakan tentang negerinya dan culture shock yang dialami beliau ketika bekerja di Indonesia.

Beliau bercerita tentang Kopaja, VCD bajakan, dan lagu-lagu di Indonesia.

“When I use Kopaja, I must jump in, and I mus jump out because Kopaja will not stop for me” Kata beliau disambut tawa kami.

Kami kembali larut dalam tawa ketika beliau memperagakan aksi kenek ketika meminta ongkos. Beliau juga bercerita selalu ditipu tukang ojek. 

Di kedubes Afsel

“I always pay more expensive when I use ojek” ungkapnya. Mungkin karena statusnya sebagai warga asing membuat para tukang ojek meminta ongkos lebih.

Di Afrika Selatan, alat transportasi utama adalah taksi. Di sini, Beliau harus membiasakan diri menggunakan bus Transjakarta untuk sampai ke kediamaannya di Kempinski Private Residence.

Beliau juga bercerita tentang banyaknya VCD bajakan yang ada di Jakarta. Beliau mengatakan di Afrika Selatan, beliau harus ke bioskop untuk menonton film. Di Jakarta, beliau tinggal membelinya di pinggir jalan dengan harga murah.

Ada sedikit momen lucu saat beliau mengatakan CD behind CD, sambil jempol beliau diangkat ala RCTI oke. Kami langsung tertawa lepas. (hayo apa maksudnya)

Ketika kami tanya soal lagu Indonesia, beliau hanya menggeleng.

“When I go to the restourant, I always listen American’s song. So I don’t know about Indonesian’s song.” Katanya.  

Sepertinya menjadi kritik bagi restoran-restoran agar lebih sering memutar lagu-lagu Indonesia dibanding lagu-lagu bule.

Sebelum pulang, beliau minta diajarkan kosa kata khas Indonesia. Langsung saja saya iyakan.

“If you feel Amazing, just say Bukan Maen” kataku.

Beliau pun langsung mengucapkan kata bukan maen, dan kami tertawa bersama mendengar kata bukan maen diucapkan Mr Moses.

Pertemuan kedua terjadi di kediaman pribadinya di Kempinski Private Residence 20 Oktober. Di kediamannya, interaksi kami jadi lebih luwes. Beliau tinggal berdua bersama istrinya, Mrs Tsefi.
Makan bersama Mr Moses dan Mrs Tsefi

Kami belajar banyak di sini. Kami diajari cara membuat masakan khas Afrika Selatan. Sebagai gantinya, kami membawakan masakan khas Indonesia, dan makan siang bersama. Kami membawa soto babat, iga bakar, pecel, gorengan, gudeg, rendang, dan es cendol. Mr Moses mengaku ini merupakan pengalaman pertama beliau dan istri makan bersama ala Indonesia.

Sehabis makan, kami diajarkan tarian khas Afrika Selatan. Bukan tarian Shakira saat piala dunia kemarin, tetapi tarian berpasangan yang lazim ditarikan saat resepsi pernikahan. Kami diperlihatkan video resepsi pernikahan Mr Moses dan Mrs Tsefi, dan melihat bagaimana mereka menarikan tarian ini. Sebagai gantinya, kami mengajarkan Mr Moses tarian Saman. Kami tertawa bersama saat melihat Mr Moses dan Mrs Tsefi berlutut menarikan tari Saman. Kami juga diajarkan meniup Vuvuzela, terompet khas Afrika Selatan yang sempat diprotes penggunaanya oleh pemain bola saat piala dunia kemarin.

Memasak ala Afrika Selatan
Sebelum pulang, kami diminta menyanyikan lagu nasional Indonesia Raya dan Mr Moses menyanyikan lagu nasional Afrika Selatan. Rasanya luar biasa menyanyikan lagu nasional dihadapan orang asing.

Mr Moses dan Mrs Tsefi menari Saman
Dan akhirnya, 2 november kemarin, giliran kami yang mempresentasikan apa yang kami pelajari di depan kelas. Kami menampilkan aksi pangung suku primitif Afrika, kami memasak masakan khas Afrika, tarian berpasangan, dan aksi-aksi lainnya.

Aksi kami di kelas
Hasilnya pun memuaskan, kami berhasil menghibur kelas sekaligus memberikan informasi tentang kebudayaan Afrika Selatan. Kami diberi nilai exellent buat kerja keras kami.

Akhir kata, “Kialaboaa dan Bukan Maen”   

Komentar

  1. wah enak banget. dapet beasiswa gt ceritanya? atau semacam student exchange?

    BalasHapus
  2. Waaah.. keren banget pengalamannya :D
    ijin follow yah, saling follow yuuk ;)

    BalasHapus
  3. Acaranya hanya saling belajar kebudayaan, bukan tentang beasiswa. .

    silahkan difollow kalau berkenan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial