Jadi Mata Harimau Untuk Selamatkan Harimau Sumatera


Komitmen Bersama Selamatkan Harimau Sumatera

Jumat, (16/9) Greenpeace Indonesia meluncurkan kampanye penyelamatan Harimau Sumatera yang kini jumlahnya kurang dari 400 ekor. Kampanye ini bertepatan dengan ulang tahun Greenpeace yang ke-40. Bertempat di teater kecil Taman Ismail Marzuki, Greenpeace Indonesia mengajak kita semua untuk peduli pada kelangsungan hidup Harimau-Harimau Sumatera yang tersisa.


Kampanye ini menampilkan  pameran foto, pemutaran film, pagelaran silat harimau, orasi dan peneguhan komitmen bersama penyelamatan Harimau Sumatera. Berbagai pihak hadir dalam kampanye ini antara lain, Kementrian Kehutanan, Kontras, LBH Jakarta, Walhi, dan komunitas masyarakat Minangkabau serta beberapa media.
Harimau Sumatera Menunggu Mati


Perusakan hutan tropis baik pembalakan liar maupun pembukaan perkebunan menjadi alasan utama menghilangnya sang raja hutan. Rumah terbaik bagi Harimau bukanlah perkebunan kelapa sawit, bukan juga apartemen-apartemen mewah, tetapi hutan hujan tropis yang terjaga kelestariannya, tapi sayang kini rumah sang raja semakin dekat dengan kehancuran.

Dari tiga jenis harimau yang ada di Indonesia, hanya Harimau Sumatera yang masih eksis sampai sekarang. Harimau Jawa sudah tak terlihat sejak 1930, Harimau Bali bahkan sudah tak terendus ratusan tahun lalu. 

Saya, bersama Nurul dan Putu Elmira

Ada sedikit cerita menarik tentang Harimau Bali. Kebetulan saya berangkat ke kampanye ini bersama dua teman baik saya, yakni Nurul dan Putu Elmira. Saya sempat bertanya kepada Putu yang asli Bali mengenai Harimau Bali, dan ia hanya menggeleng. “Emang ada Harimau Bali ?” ia malah balik bertanya.

Mungkin nasib Harimau Sumatera sebentar lagi akan seperti saudaranya, Harimau Bali, dilupakan oleh generasi selanjutnya. Tapi kita bisa menghentikan hal itu sekarang, dengan menjadi bagian dari Greenpeace Indonesia melawan kekuatan kapital perusahaan-perusahaan besar perusak rumah sang raja.

Komentar

  1. manusia emang jahat yah. ntar aja pas harimau nyerang manusia, harimaunya yang di salahain padahal kan udah jelas manusia yang salah.
    habitat mereka di rusak yang bikin makanan mereka ikut ga ada dan otomatis mereka bakal dateng ke pemukiman warga setempat buat nyari makanan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial