Cerita dan Ciuman dari Tante Djenar Maesa Ayu


Djenar Maesa Ayu, siapa yang tak kenal beliau..?

Seorang penulis hebat, terhebat yang pernah aku kenal. Sedikit tentang tante Djenar Maesa Ayu, beliau lahir di Jakarta, 14 Januari 1973. Beberapa buku goresan idenya yang pernah aku baca, antara lain Mereka Bilang Saya Monyet, Jangan Main-Main dengan Kelaminmu, dan yang terbaru 1 Perempuan 14 laki-laki.

Sedikit pun aku tak pernah bermimpi bisa bertemu beliau, tapi kemarin, sabtu 1 April 2011 di Birdie Kemang, kami bertemu. Rasanya sedikit aneh, bisa bertemu dengan sosok yang dikagumi, berbagi cerita, dan tertawa bersama. Rasanya masih sulit dipercaya, tapi ini nyata. Kami bertemu.

Berawal dari sebuah tugas Mata Kuliah Creative Thinking yang mengharuskan aku untuk mengkisahkan sosok kreatif, cerita ini pun dimulai.

Begitu mendengar tentang tugas ini, puluhan nama bermunculan. Semuanya kreatif. Aku kebingungan mana yang harus aku pilih sebagai nara sumber sampai akhirnya sebuah buku putih yang tersusun rapi mengusik lamunanku yang entah sudah hinggap sampai ke mana. Buku itu bertuliskan nama Djenar Maesa Ayu.

“ting”

Otak dan pikiranku bekerja, simpul-simpul syaraf tersambung, mulutku bergumam “mengapa bukan dia saja”

Lantas aku ceritakan ideku ini ke Eli, salah satu temanku yang aku tau dia juga masih kebingungan mencari sosok kreatif. Dia setuju. Lalu aku sibuk menenggelamkan diri ke dunia maya mencari info tentang tante Djenar.

Banyak yang menulis tentang tante Djenar, tapi tak satupun yang menyertakan kontak yang bisa dihubungi. Aku tak menyerah. Lantas aku paksa otakku untuk berpikir lebih keras, tak lupa secangkir kopi hangat aku sediakan agar otak ini tidak ngambek dipaksa berpikir.

“ting”

Otakku berhasil, aku menemukan sesosok yang mungkin bisa mengantarku bertemu tante Djenar. Mas Tim begitu aku menyapanya. Mas Tim merupakan kakak kelasku di kampus, seingatku dia pernah menjadi fotografer di acara launching buku tante Djenar.

Otakku tak meleset, dan benar Mas tim bisa menjadi penghubung antara aku dan tante Djenar. Aku diberi nomer kontaknya tante Djenar, kami pun janjian untuk bertemu.

Birdie kemang menjadi tempat pilihan tante Djenar untuk bertemu, aku pun menyanggupinya, begitu pun Eli.

Jam 4 sore, aku sudah stand by di lobby kampus. Aku menunggu Eli yang masih kelas saat itu. 15 menit aku menunggu, Eli pun selesai kelas, kami berangkat menuju tempat janjian.

Jakarta cukup padat sore itu. Butuh sekitar 1 ½ jam dari Grogol ke Kemang. Sekitar pk 17.45 kami sampai di Birdie. Segelas white coffe san Ice Lemon tea menjadi teman kami sembari menanti tante Djenar.

Tak lama, sebuah taksi oranye mendekat, dan wow itu Tante Djenar. Kami sedikit melonjak. Langsung saja kami memperkenalkan diri.

Kami duduk satu meja. Tante Djenar dengan rokok dan bir, aku dengan white coffee, dan Eli dengan Ice Lemon Teanya. Banyak kata saling terlontar di antara kami. Kami seperti layaknya sahabat lama yang sudah lama tak berjumpa. Kalimat demi kalimat meluncur dengan sendirinya.

Banyak pelajaran yang bisa aku petik dari seorang Djenar Maesa Ayu. Membebaskan pikiran dan menulis berlandaskan kejujuran menjadi kunci di setiap karya tante Djenar.

“Tak ada pesta yang tak usai” begitu pula dengan “pesta” kami malam itu. Kami sudahi “pesta” itu dengan sebuah foto bersama dan cium pipi kiri kanan. . .

Komentar

  1. huwaaaah enak banget popo!
    oh dia ngerokok and ngebir toh. gaols banget ya hehe. asik banget kamu aaaaah gak ngajak!

    BalasHapus
  2. mau juga dong dicium :D
    #plaaaaakkk !! awwww ..

    BalasHapus
  3. Mestinya ajak2 gua...hiks...siriiiikkkk >_<

    BalasHapus
  4. boleh2, entar lagi ya gue ketemu lagi ..

    BalasHapus
  5. Sudah cantik, pinternulis lagi

    BalasHapus
  6. bener sekali .. sudah cantik, piawai merangkai kata. .

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial