Keterbukaan Komunikasi Dalam Kompleksitas Sosial Ekonomi


Kebebasan berkomunikasi meningkatkan tuntutan dan harapan yang lebih besar dalam upaya mencapai kesejahteraan. Memasuki era reformasi demokratisasi dalam berbagai kehidupan semakin menguta. Namun jika tidak dijalankan dengan beradab, maka bisa saja terperangkap dalam pengertian negative. Sebab “Demokrasi merupakan sistem pemerintahan terburuk karena membiarkan mayoritas berlaku sewenang-wenang”, setidaknya itulah yang diungkapkan Plato, seorang filsuf besar 4 abad sebelum masehi.

Dalam konteks itulah, Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK), yang antara lain dimotori oleh Drs. A. Junaedi, M.Si- dosen Fikom Untar dan wartawan senior The Jakarta Post, bekerja sama dengan beberapa LSM lainnya mengadakan sebuah diskusi yang membahas seputar ketegangan antara demokrasi dan kompleksitas masalah sosial, ekonomi dan politik.

Acara ini berlangsung di Warung Daun, jalan Cikini raya pada Kamis, 3 Maret 2011. Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Ezki Suyanto, Maria Hartiningsih, Ihsan Ahli Fauzi dan dimoderatori oleh Saidiman Ahmad. Tidak hanya diskusi, acara ini juga diselingi launching buku Menentang Tirani Mayoritas tulisan Drs. A. Junaedi dkk..

Turut berpartisipasi dalam diskusi ini, antara lain Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara yang mengaplikasikan nilai keanekaragaman dan humanisme dalam kurikulum berwawasan industri komunikasi dan media. Acara ini berlangsung dengan baik. Banyak pertanyaan dan pernyataan kritis yang bermunculan dalam diskusi ini. Tidak hanya kritikan terhadap pemerintah, solusi-solusi pun bermunculan untuk menjadikan Indonesia yang makmur dan sejahtera tanpa diferensiasi. (Elwi-Fikom Untar)


Sumber di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Apakah PR Harus Cakep?