Binjai, tahun 1994 dan kini ..

BINJAI. . .

Mungkin banyak di antara teman-teman yang bertanya apa itu Binjai.
Kata Binjai mungkin terasa asing di telinga teman-teman, tapi tidak untuk saya. Binjai merupakan sebuah kota satelit di arah barat daya kota Medan dan hanya berjarak 22 km dari ibu kota Sumatera Utara tersebut. Di sanalah saya dilahirkan, tumbuh dan menjadi seperti sekarang ini. 17 tahun, saya habiskan di kota itu sebelum akhirnya saya pindah ke ibu kota.

Sabtu, 12 Februari 2011 pukul 4 sore
saat itu saya sedang dalam tugas menyiapkan makan malam keluarga. Tak mau repot, saya pergi ke Pondok Happy, salah satu rumah makan yang cukup terkenal untuk membeli beberapa ekor ikan bakar dan semangkuk cap cai. .

Selagi menunggu pesanan saya dimasak, saya melempar pandangan ke seluruh sudut rumah makan itu dan pandangan saya terhenti pada sebuah foto di salah satu sudut rumah makan itu. Saya mendekat dan tertegun. Foto itu merupakan foto kota binjai dari udara yang diambil tahun 1994.

Foto itu cukup besar resolusinya, cukup untuk melihat setiap kenangan masa kecil saya. Di foto itu juga masih terlihat Gardu Air Kota Binjai yang berdiri kokoh mencatat setiap sejarah kota ini sejak zaman Belanda sampai datang sebuah rezim menggrogoti momumen itu dan menggantinya dengan sebuah mega proyek yang tidak jelas untuk siapa, dari siapa dan oleh siapa, yang dinamai "Sky Cross".

Mungkin para pemimpin kota indah ini waktu itu lupa akan perkataan presiden pertama kita, Ir. Soekarno yang menyerukan jangan sekali-kali melupakan sejarah (JAS MERAH), atau mungkin seruan itu sengaja dilupakan. Entahlah ..

Kini Gardu Air, simbol sejarah itu sudah tiada, digerus arus modernitas ala sang penguasa.
Foto di bawah ini saya upload dan saya dedikasikan untuk generasi muda kota Binjai, khususnya yang lahir di atas tahun 2002, tahun di mana Gardu itu berhenti menjadi saksi hidup perkembangan kota Binjai.




Semoga saja foto ini dapat menyadarkan kita bahwa arus modernitas tidak harus selalu berseberangan dengan sejarah.



Salam hangat ..
Elwi (anak binjai kelahiran 1992, yang kebetulan masih sempat melihat Gardu itu berdiri menantang hari)

Komentar

  1. wah Binjai modern dong ya sekarang? bentar lagi bakal banyak mall tuh po :p

    BalasHapus
  2. sayang ya bro.salah satu ikon binjai hilang di telan keganasan rezim yg tak tentu arah dan tujuan pembangunannya.
    sekarang hny tinggal cerita saja yg ada utk anak cucu kita kelak nantinya.
    kalo saya pribadi ya,semestinya di pugar dgn tidak menghilangkan nilai2x sejarah aslinya, bkn langsung dihancurkan agar bisa dinikmati generasi selanjutnya dan bkn hny mendengar ataupun melihat dari fotonya saja.
    semoga saja hny itu ikon dari kota binjai yg hilang, jgn sampai ada lagi lainnya yg hilang.

    BalasHapus
  3. Iya nih, modernitas itu penting, tapi jangan sampai gara-gara modernitas, simbol-simbol sejarah dikorbankan. .

    modernitas dan sejarah bisa berjalan beriringan. .

    BalasHapus
  4. terlalu byk mall jg gak baek,,,coz ciri khas binjai yg byk org jualln toko bklo punah krn bangkrut,,,moga aja burung2 yg di binjai gak pada pigi akibat mall 2 binjai,,kn ciri binjai tuh,,gak lupa lg,,,soal tmpat makan yg di sebut pajak kaget,,,

    BalasHapus
  5. setuja . .
    Mall mah satu atau dua juga uda cukup, lagian kita juga sudah punya pasar di mana-mana. .
    &
    pasar kaget harus dikembangkan semaksimal mungkin, pasar kaget ini yang menarik orang-orang mau dateng ke kota kita. kebetulan saya tinggal di pasar kaget .. hehe . .

    BalasHapus
  6. Hua......
    Binjai.....
    Saya memang Lahir di kota Medan...
    namun saya Tumbuh dan berkembang di kota Binjai....

    BalasHapus
  7. beginilah Binjai, tumbuh dan berkembang tanpa akar yang kokoh. .

    BalasHapus
  8. Waduh Kota Binjai sekarang sudah gersang dan berantakan , planing pembangunan tidak teratur , pasar tavip aja sampai sekarang ini masih kumuh dan jorok , sebuah kota kecil yang dikatakan bersih di nilai dari pasar induk , dan jelas sekarang ini apa lagi banyakya gedung dijadikan sarang burung walet , cocoknya kota binjai di juluki kota sarang burung

    BalasHapus
  9. yah itulah resiko punya pemimpin tak punya visi pembangunan, jadinya pembangunan serampangan, tak jelas dan tanpa tujuan ..

    BalasHapus
  10. wah lo anak binjai ya?
    gue anak binjai,gue juga sempet ngepost tentang kota binjai

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sob ..
      anak Binjai juga gue ..
      hehee. .

      link blog lo mane..?
      di share sob. .

      Salam kenal

      Hapus
  11. Teringat kenangan tentng gardu.waktu kecil di saat bulan ramadhan gardu menjadi tempt membunyikan sirine tanda berbuka nya puasa...teringat juga sama teman yang bernama tim tom yang celana nya koyak akibat memanjat. Gardu disaat kami berdemonstrasi menentang pembngunan sky cross di kotamadya binjai...ohh water leading binjai malang nya nasib mu.

    BalasHapus
  12. Tim tom,ferdian syam,isra ilhamta kaban,yudi,bg rahmat.dimana kalian semua sekarang

    BalasHapus
  13. kota masa remajaku dimana aku mendapatkan jati diri, sahabat sejati dan pendamping hidup meski tak dilahirkan di sana. semoga kota binjai tetap memiliki ciri khasnya dan tidak kehilangan lebih banyak sejarahnya..

    @faizal reza: maaf kalau boleh tau yudi yang abang maksud tu yudi ardiansyah ya???

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial