Jurnalis Damai dan Multikulturalisme

Tidak adanya budaya baca menjadikan televisi sebagai media paling digemari saat ini. Mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa sampai orang tua, semuanya menonton televisi. Tak dapat dipungkiri, televisi memegang peranan penting dalam pembentukan karakter dan opini publik. Oleh karena itu, tayangan-tayangan televisi harus benar-benar diawasi. Jangan sampai televisi dijadikan alat pemecah bangsa, justru sebaliknya, televisi harus menjadi media yang mampu menjaga perdamaian dan kemajemukan.

Atas dasar itulah, Yayasan SET berkerja sama dengan USAID, SERASI dan IJTI menyelenggarakan penganugerahan perhargaan jurnalisme televisi untuk perdamaian dan multikulturalisme pada 30 September 2010 di Hotel Arya Duta. Acara ini bertujuan untuk mengkampanyekan pentingnya peran televisi dalam menjaga perdamaian dan multikulturalisme di masyarakat Indonesia yang majemuk.

Perlombaan yang diikuti berbagai stasiun televisi ini akhirnya dimenangi oleh Jembatan Air Mata dari Redaksi Kontroversi Trans 7, dan Cinta Kasih Pasudan Asih dari DAAI TV.

Acara ini dihadiri berbagai pihak, mulai dari kalangan jurnalis, profesional, sampai rekan-rekan mahasiswa. Fikom Untar salah satunya. Fikom Untar sebagai institusi perguruan tinggi yang berazaskan humanis dan pluralisme mengirimkan 8 mahasiswa ke dalam acara itu. Eksistensi Fikom Untar dalam acara itu menunjukkan komitmen Fikom Untar sebagai Fakultas pencetak jurnalis-jurnalis handal yang mampu menjadikan media televisi sahabat bagi semua.

Acara ini diakhiri dengan santap siang bersama. (Elwi-Fikom Untar)



Artikel ini juga diunggah ke situs Untar, tinggal klik di sini.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial