Adakah Politik Uang dalam Pilkada Binjai..?

Binjai, begitulah orang-orang menamai kota indah ini.

Kota yang terletak tak jauh dari kota Medan ini memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara. Letaknya yang strategis, diapit dua kabupaten besar, kabupaten Langkat, dan kabupaten Deli serta tak jauh dari ibu kota provinsi membuat pertumbuhan ekonomi di kota ini relatif tumbuh lebih cepat dibanding daerah-daerah lainnya.

Kota berpenduduk seperempat juta jiwa ini juga termasuk dalam mega proyek "MEBIDANG" (Medan-Binjai-Deli Serdang), sebuah mega proyek yang sepintas mirip-mirip dengan JABODETABEK (Jakarta-Bogor-Depok-Tanggerang-Bekasi). Binjai sangat berpotensi untuk menjadi sebuah kota besar.

Dengan semua keunggulan itu (baca juga artikel ini), tak pelak kota ini membutuhkan seorang pemimpin super yang mampu menjaga stabilitas kota indah itu, dan kabar baiknya adalah sebentar lagi akan diadakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) kota Binjai. Tepatnya 12 Mei 2010.

Saya sebagai warga Binjai (walau jauh di perantauan) sangat senang dengan adanya pilkada kali ini. Banyak harapan saya agar pilkada ini mampu memberikan bukti nyata perkembangan kota Binjai, dan tidak hanya menjadi arena obral janji para kandidat wali kota.

Namun, ada satu yang sangat disayangkan. Di tengah-tengah persiapan menyambut pilkada itu, ada issue yang berhembus bahwa salah satu pasangan calon melakukan curi start dan money politic.

Berita ini saya peroleh dari salah satu status halaman facebook kota Binjai (entah resmi atau tidak), dan statusnya seperti ini :

"ohhh hari Rabu yg lalu wali kota kita bagi2 duit di tanah lapang Kebun Lada...wah hebat benar nih walikota ya!!! Curi kampaye perkenalkan calon walikota pilihannya (Lah wong ternyata adik iparnya)...Aduh sampe kapan awak orang Binjai bisa disogok dengan duit untuk merubah pilihan hatinya yaa."

Jika terbukti ini benar, tentu kota Binjai akan hancur bila dipimpin oleh pasangan calon yang bermental seperti ini.

Jika terbukti ini tidak benar, tentunya issue-issue seperti ini akan sangat menggangu konsentrasi pasangan calon, pihak penyelenggara hingga warga Binjai sebagai pemilih.

(klik gambarnya untuk memperjelas)


Saya tidak ingin terjebak dalam spekulasi ini benar atau tidak. Sebagai warga yang baik, saya hanya berharap Binjai ke depannya akan menjadi lebih baik lagi.

Semoga Binjai sesuai julukannya kota rambutan, dapat menjadi benar-benar kota RAMBUTAN (Ramah, Aman, Makmur, BerbUdaya, TenterAm, dan Nyaman)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial