Perilaku Meniru dari Televisi

Suami-Suami Takut Istri (SSTI), sebuah sitkom yang secara rutin ditayangkan di Trans TV mulai dari senin sampai jumat jam 6 sore, sebuah sitkom yang selalu menampilkan kelucuan, tingkah jenaka para pemain, sampai konflik rumah tangga yang selalu berakhir dengan keceriaan. Namun, dibalik itu semua ada sesuatu yang berbeda di SSTI episode (lupa namanya), yang jelas episode itu ditayangkan pada Jumat, 26 Pebruari 2010.

Sore itu, SSTI seperti biasa menampilkan kisah para suami yang takut kepada para istri, tapi ada satu yang berbeda. Episode itu berkisah tentang aksi 100% bersih melawan flu burung.

Ya, 100% aksi bersih melawan flu burung benar-benar dilakonkan dengan sangat baik. Mulai dari kata-kata yang terucap, perbuatan 100% bersih sampai penyuluhan di akhir acara.

Menyaksikan episode itu, langsung saya teringat perkataan seorang sahabat, “Manusia itu selalu meniru apa yang ia lihat, apa yang ia dengar, dan apa yang ia rasa”. Bila rangkaian kata itu benar, maka sangat besar harapan saya, flu burung dapat kita cegah walau sekarang wabah flu burung kalah “seksi” dengan berita pansus century, isu resuffle, atau isu kontroversial para selebritis dan politisi.

Flu burung walau sudah jarang menjadi headline surat kabar tetap merupakan suatu virus yang berbahaya dan sanggup mengirim orang-orang yang terjangkit ke alam lain. Dengan adanya episode itu, tentunya sangat diharapkan penyebaran flu burung dapat diminimalisir.

Terima kasih kepada para pembuat episode itu, yang telah memberi sentuhan berbeda ke dalam acara serial televisi itu dan tidak seperti sinetron-sinetron yang terus-terusan menjual mimpi yang tidak jelas, dan menampilkan adegan yang tidak pantas.

Pernah ketika itu, ada sebuah sinetron ****(edited) yang menampilkan adegan seorang pria membonceng lawan mainnya tanpa menggunakan helm. Perilaku seperti itu sungguh sangat berkontradiksi dengan usaha pak polantas meminimalkan angka kematian kecelakaan lalu lintas.

Adegan itu akan terdoktrinisasi ke dalam otak-otak para pemuda yang akan beranggapan bahwa membonceng wanita tanpa helm itu keren atau membonceng wanita tanpa helm itu hal biasa.

Hmm.. .Andai semua episode di televisi itu mengajarkan hal-hal yang baik. . .

Semoga saja. .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial