Globalisasi, Kawan atau Lawan ??

Globalisasi, Kawan atau Lawan ??

Globalisasi tak terpungkiri telah terjadi di zaman ini. Globalisasi tak pelak menyebabkan persaingan manusia sebangsa atau antar bangsa. Globalisasi menyebabkan sekat-sekat atau batas-batas Negara menjadi kabur. Seseorang dapat dengan mudah mencari pekerjaan di Negara lain. Kita ambil saja contoh kecil di negeri kita tercinta ini. Pemain basket Philipina begitu laris manis di kompetisi basket nasional. Hal ini tentunya membawa dampak yang cukup besar. Pemain asing diharapkan dapat mentransfer ilmunya kepada pemain kita. Di sisi lain, pemain tersebut juga membuat jumlah pengangguran semakin bertambah. Apabila satu klub basket memiliki satu pemain asing, maka apabila ada dua belas klub maka ada dua belas orang yang akan menganggur. Hal ini juga terjadi pada olahraga lain semisal Voli. Pemain China laris bagaikan kacang goreng. Hal yang paling mencolok mungkin terjadi pada sepak bola. Sepak bola sebagai cabang olahraga paling populer di negeri ini tentunya menjanjikan keuntungan yang menggiurkan. Maka tak heran banyak pemain asing yang mencoba peruntungan di negeri ini. Pemain asing ini ada yang berkualitas ada juga yang kualitasnya sekelas liga tarkam. Pemain-pemain dari kiblat sepakbola semisal Amerika latin atau Eropa mungkin tak menjadi masalah karena mereka-merekalah yang diharapkan menjadi guru bagi pemain nasional. Lalu bagaimana dengan pemain-pemain dari negara-negara asia afrika ?? Mereka ini memiliki kualitas yang sama atau mungkin sedikit di atas pemain nasional kita. Pemain-pemain asia afrika pada umumnya lebih memiliki determinasi untuk bermain. Selain itu, nilai kontrak mereka pada umumnya lebih murah daripada pemain nasional. Hal ini yang menyebabkan klub-klub lebih suka memakai pemain asing dari pada pemain nasional. Ambil contoh: kiper Persib Bandung beberapa musim lalu asal Thailand, “kosin “ yang dikontrak hanya Rp50 juta/bulan. Nilai kontrak tersebut langsung membuat kosin menjadi kiper Thailand termahal. Bandingkan saja dengan nilai kontrak kiper nasional semodel Markus Horison yang dikontrak hampir Rp 900 juta/musim. Hal yang sama juga terjadi di Persebaya Surabaya. Dari pada mengontrak Hendro Kartiko yang meminta Rp 600 juta/musim lebih baik mengontrak kiper asal China berusia 18 Tahun “Zeng Cheng” yang hanya Rp 200 juta/musim. Selain kualitas yang relatif imbang, Zeng juga lebih muda, lebih tampan sehingga akan lebih menguntungkan kalau mengontrak Zeng. Persekabpas Pasuruan juga mengalami hal yang hampir serupa. Persekabpas mengontrak gelandang pekerja asal Thailand, “Phaitoon Thiambat” senilai Rp 250juta/musim. Nilai yang sangat murah untuk seorang gelandang. Bandingkan dengan nilai kontrak Ponaryo Astaman yang hampir mencapai Rp 850 juta/musim. Striker Leo cithescu yang memiliki dribbling yahud hanya mematok harga Rp 200juta per enam bulan, atau sekitar 33 juta/bulan. Bahkan striker Roger Boutum hanya mematok di kisaran Rp 15 juta per bulan. Bandingkan dengan Bambang Pamungkas yang dihargai Rp 1,37 miliar/musim. Hal ini lah yang menyebabkan pemain lokal semakin kehilangan tempat di klub-klub ISL.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Apakah PR Harus Cakep?