Postingan

Men Are From Mars, Women Are From Venus: Sebuah Delusi

Gambar
dok: kutubuku.com Dulu ada masa di mana aku begitu mengidolai buku Men are From Mars, Women are From Venus. Buku karya seorang PhD bernama John Gray ini, harus diakui sangat menarik perhatian anak-anak muda yang baru mengenal cinta, seperti aku di masa itu. Buku yang sudah dicetak berulang kali ini bercerita tentang perbedaan kondisi piskologi antara laki-laki dan perempuan, yang diibaratkan dengan berbeda planetnya kedua jenis manusia ini. Laki-laki digambarkan dari Mars, dan Perempuan dari Venus. Keduanya datang ke Bumi untuk saling mencintai tetapi lupa bahwa mereka memiliki nilai-nilai yang berbeda. Perbedaan inilah yang membuat hubungan tidak berjalan baik. Nah, buku ini hadir sebagai jawabannya.  Ada satu bab yang sangat menarik, diberi judul Men Go to Their Caves and Women Talk . Bab ini menceritakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan saat menghadapi masalah. Laki-laki akan masuk ke dalam “goanya”, untuk merenung, memikirkan dan mencari sendiri solusi at...

Enaknya Menjadi Laki-Laki di Indonesia!

Gambar
Kelas Feminisme Dasar yang diadakan oleh Jurnal Perempuan (30/10/14). Dok: Jurnal Perempuan Namaku Elwi Gito. Aku laki-laki. Aku si sulung dengan tiga adik perempuan. Aku dibesarkan dalam tradisi budaya Tionghoa yang partilinear. Aku hidup dengan semua keuntungan. Keuntungan karena aku anak laki-laki sulung dan satu-satunya ditambah lagi aku tinggal di Indonesia yang partiarkhis. Aku ingat betul ada sebuah doa yang cukup termahsyur, “Aku bersyukur pada-Mu Tuhan, karena Engkau jadikan aku bukan sebagai budak dan bukan sebagai perempuan” . Ah, dalam hati, aku mengamini doa itu. Aku beruntung karena aku laki-laki. Aku bisa mengatur sendiri pakaianku. Aku bebas mau pakai ini atau pakai itu. Tidak seperti perempuan, yang pakaiannya saja harus diatur-atur oleh masyarakat. Bahkan, seolah tak mau kalah, pemerintah pun ikut turun tangan mengatur pakaian perempuan lewat sejumlah kebijakan. Komnas Perempuan menamainya dengan kebijakan diskriminatif. Kata mereka, jumlahnya ada 36...

Kaitan Kekerasan dalam Pacaran dengan FTV: Sebuah Telisik

Gambar
Aku dan Ardina Rasti, duta Anti Kekerasan terhadap Perempuan Beberapa hari setelah aku diterima sebagai anak magang di Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), aku diberi tugas untuk meliput kegiatan konfrensi pers tentang Kekerasan dalam Pacaran yang dialami oleh Ardina Rasti. Rasti demikian ia dipanggil, mengalami pemukulan yang dilakukan oleh pacarnya sendiri, Eza Gionino. Kasus ini sempat heboh walau banyak pula yang sinis terhadap kasus ini. “Ah, palingan cari sensasi untuk promo film baru” kata mereka. Ardina Rasti kini menjadi duta anti kekerasan terhadap perempuan. Ia dianggap sebagai figur perempuan yang berani melaporkan kasus kekerasan dalam pacaran yang ia alami. Ia didaulat sebagai duta oleh Lembaga Bantu Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) yang mendampingi kasusnya. Sebagai duta, Ardina Rasti getol mengkampanyekan bahaya jeratan Kekerasan dalam Pacaran melalui media sosial. Beberapa hari selang ko...

Apa dan Mengapa Pundi Perempuan?

Gambar
Aku bersama Yulita dan Mia, tim dari Komnas Perempuan! Halo every body! Ceritanya kamis malam kemarin (25/9), aku berada di tengah-tengah pertunjukan resital piano sang Maestro musik klasik, Ananda Sukarlan dalam tajuk Ananda untuk Perempuan Indonesia. Resital ini dihelat di Terrace Garden Hotel Four Seasons, Jakarta. Para hadirin yang datang disuguhkan permainan piano yang luar biasa dari sang maestro yang lama tinggal di Eropa ini. Resital ini menampilkan cuplikan-cuplikan dari Opera Clara yang akan dipentaskan desember nanti. Opera Clara diadopsi dari cerpen yang juga berjudul Clara karya Seno Gumilar Ajidarma. Cerpen Clara bercerita tentang Clara, seorang gadis Tionghoa yang diperkosa di jalan tol di Mei 1998. Cerpen Clara merupakan salah satu kisah yang paling memilukan tentang perkosaan gadis-gadis Tionghoa 16 tahun lalu. Resital Piano Ananda untuk Perempuan Indonesia merupakan salah satu kampanye Pundi Perempuan, yang digagas oleh Komnas Perempuan dan Indonesia un...

Keterasingan: Fenomena Mengapa Orang Manyun Bila ke Kantor

Gambar
Gambar dari http://www.portalhr.com/ Kamu sering manyun ke kantor ? Kalau iya, silahkan terus baca sampai akhir artikel ini. Senin lalu, Franz Magnis Suseno mengisi salah satu kelas extention course yang diadakan oleh Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, temanya cukup menarik yakni Manusia dan Pekerjaan. Aku cukup menanti kelas ini. Ada banyak pertanyaan di otakku, kenapa kita harus bekerja? Apa sih itu sebenarnya hakikat dari bekerja? Kenapa ada orang yang begitu semangat bekerja di saat yang lain terus-terus ngedumel tentang pekerjaannya? Kelas yang dibawakan oleh Franz Magnis cukup bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Franz Magnis membawakan pemikiran Hegel dan Marx ke dalam kelas ditambah sedikit sangahan dari Jurgen Habermas. Aku sendiri tidak begitu yakin aku sudah mengerti apa yang Franz Magnis terangkan di kelas. Di tengah keragu-raguanku dalam mengerti itu, aku akan sampaikan beberapa point yang berhasil aku tangkap untuk kita diskusikan nantinya ...