Postingan

Apa dan Mengapa Pundi Perempuan?

Gambar
Aku bersama Yulita dan Mia, tim dari Komnas Perempuan! Halo every body! Ceritanya kamis malam kemarin (25/9), aku berada di tengah-tengah pertunjukan resital piano sang Maestro musik klasik, Ananda Sukarlan dalam tajuk Ananda untuk Perempuan Indonesia. Resital ini dihelat di Terrace Garden Hotel Four Seasons, Jakarta. Para hadirin yang datang disuguhkan permainan piano yang luar biasa dari sang maestro yang lama tinggal di Eropa ini. Resital ini menampilkan cuplikan-cuplikan dari Opera Clara yang akan dipentaskan desember nanti. Opera Clara diadopsi dari cerpen yang juga berjudul Clara karya Seno Gumilar Ajidarma. Cerpen Clara bercerita tentang Clara, seorang gadis Tionghoa yang diperkosa di jalan tol di Mei 1998. Cerpen Clara merupakan salah satu kisah yang paling memilukan tentang perkosaan gadis-gadis Tionghoa 16 tahun lalu. Resital Piano Ananda untuk Perempuan Indonesia merupakan salah satu kampanye Pundi Perempuan, yang digagas oleh Komnas Perempuan dan Indonesia un...

Keterasingan: Fenomena Mengapa Orang Manyun Bila ke Kantor

Gambar
Gambar dari http://www.portalhr.com/ Kamu sering manyun ke kantor ? Kalau iya, silahkan terus baca sampai akhir artikel ini. Senin lalu, Franz Magnis Suseno mengisi salah satu kelas extention course yang diadakan oleh Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, temanya cukup menarik yakni Manusia dan Pekerjaan. Aku cukup menanti kelas ini. Ada banyak pertanyaan di otakku, kenapa kita harus bekerja? Apa sih itu sebenarnya hakikat dari bekerja? Kenapa ada orang yang begitu semangat bekerja di saat yang lain terus-terus ngedumel tentang pekerjaannya? Kelas yang dibawakan oleh Franz Magnis cukup bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Franz Magnis membawakan pemikiran Hegel dan Marx ke dalam kelas ditambah sedikit sangahan dari Jurgen Habermas. Aku sendiri tidak begitu yakin aku sudah mengerti apa yang Franz Magnis terangkan di kelas. Di tengah keragu-raguanku dalam mengerti itu, aku akan sampaikan beberapa point yang berhasil aku tangkap untuk kita diskusikan nantinya ...

Mari Gelisah Bersama!

Gambar
Mari Gelisah Bersama! Sesungguhnya sejak aku bergabung di Komnas Perempuan, aku merasakan gelisah tiap bangun pagi dan jelang tidur malam. Aku gelisah akan hal ini, gelisah akan hal itu, aku gelisah akan semuanya. Di Komnas Perempuan, aku harus berhadapan dengan realita, ya dengan realita! Realita yang tidak seindah perpustakaan kampusku, realita yang tak seindah “dongeng” yang diceritakan oleh guru-guru SMA-ku. Bersentuhan dengan realita membuaku gelisah, gelisah dan gelisah .... Dulu aku bangga dengan ponsel baru! Sekarang aku gelisah ketika temanku dengan bangga ganti ponsel baru. Tidakkah dia tau di negeri lain di ujung sana, ada korban anak yang teracuni timbal dari ponsel baru tersebut? Dulu aku bangga bisa beli sepatu futsal baru! Sekarang aku gelisah ketika ada seorang teman yang dengan begitu bangga bisa pamerin sepatu futsal barunya, yang katanya diproduksi secara terbatas. Tidakkah dia tahu, di balik sepatu futsal barunya itu, ada anak-anak yang...

Ah, Mama Tidak Mengerti!

Gambar
      sumber foto: wikipedia Mamaku tiap minggu selalu menelepon, dan kalimat awalnya selalu sama. Setelah Halo, mama akan bilang: “Kamu kapan keluar dari Komnas Perempuan?” Setelah kalimat itu, kalimat keduanya pun kurang lebih selalu sama: “Kamu tidak akan dapat apa-apa dari Komnas Perempuan. Uang tidak dapat, musuh malah ada di mana-mana. Nanti kamu diracun di pesawat kayak si itu tuh, si Munir” Setelah dua kalimat itu, giliran aku menjawab. Jawabanku biasanya juga selalu sama,  “Ahh, Mama tidak mengerti!” Lamunanku malam itu lantas pergi ke sosok Soe Hok Gie, sosok yang sudah aku gandrungi sejak aku SMP. Gie ketika kuliah juga mengalami apa yang aku alami, atau lebih tepatnya aku mengalami apa yang dialami oleh Gie dulu. Mamanya Gie juga begitu. Di tiap-tiap malam, Gie sehabis demontransi, Mamanya akan bilang: “Gie, untuk apa ini semua ? Kamu tidak dapat uang malah tambah musuh saja!” Dengan tenang, Gie bilang: “Ah, ...

Kritik Atas Konsep Ruang Publik ala Jurgen Habermas

Gambar
suasana diskusi Halooo kawan-kawan! Kali ini aku akan berbagi pengalamanku ketika ikut diskusi mengenai narasi kritik pemikiran Jurgen Habermas tentang ruang publik yang ideal. Diskusi ini dihelat di markas Suara Kita, organisasi yang mengadvokasi hak-hak LGBT. Diskusi berjalan menarik bersama narasumber Dewi Candraningrum. Jurgen Habermas di tahun 1962 mengajukan konsep Strukturwandel der Offentlichkeit yang menekankan bahwa negara demokrasi yang sehat dipengaruhi oleh ruang publik yang sehat. Ruang Publik oleh Habermas didefinisikan sebagai berkumpulnya orang-orang untuk berdiskusi berdasarkan rasionalitas. Mula-mula, ruang publik muncul ketika orang-orang borjuis berdiskusi tentang sastra, politik di kedai-kedai kopi di Prancis.  Buku Narasi Kritik Pemikiran Jurgen Habermas Dewi Candraningrum dengan kerangka teori feminisnya mengkritik konsep Habermas tersebut. Bagi Dewi, Habermas adalah seorang filsuf yang buta gender. Habermas lupa memikirkan tent...

7P Mengapa Laki-Laki Melakukan Kekerasan

Gambar
Dokumentasi Laki-Laki Baru Halo Halo .. Kali ini aku akan berbagi cerita tentang pengalamanku mengikuti Forum Belajar Maskulinitas dengan tema Psikologi Laki-Laki dan Kekerasan. Forum Belajar ini diadakan oleh Aliansi Laki-Laki Baru di Coffee War kemarin sore (16/7). Ada beberapa hal yang aku pikir cukup menarik untuk aku bagikan, utamanya tentang 7P kenapa Laki-Laki sering kali melakukan kekerasan.   Hadir sebagai narasumber (teman belajar ~ istilah yang dipakai oleh Aliansi Laki-Laki Baru) adalah Cahyo dari Yayasan Pulih. Cahyo mengutip penelitian dari Michael Kaufman: The 7 P’s Men’s Violence. Sebelum masuk ke sana, aku ingin mengajak para pembaca untuk merefleksikan masa kecil kita. Sadarkah kita bahwa dari sejak kecil (bahkan sejak janin), Perempuan dan Laki-Laki sudah dibeda-bedakan. Ada konstruksi sosial, peran dan harapan yang berbeda yang disematkan ke Laki-Laki dan Perempuan. Laki-Laki sering kali diharapkan mampu menjadi sosok pemimpin yang mampu me...